Nama Suamiku
Nama Suamiku
Sebenarnya tulisan ini lebih tepat sebagai curhatan :-)
Pindah rumah baru tentu saja dengan lingkungan baru. Tetangga baru dengan semua pribadi masing – masing.
Mungkin memang sayalah yang kuper
tapi sejak pindah ke rumah baru, tak seorangpun memanggil saya dengan nama asli saya, selalu dengan nama suami, entah itu memanggil saya dengan sebutan ibu atau tante dari anak – anak kecil. Semua dilatih oleh ibu mereka memanggil seseorang dengan nama suami mereka.
Bukan karena ego atau karena merasa eksistensi saya kurang dihargai jika saya membicarakan hal ini dengan suami. Pada intinya suami saya mengerti keberatan saya dan meminta saya menyampaikan ke ibu – ibu tetangga.
Ketika tiba saat menyampaikan, ternyata tidaklah semudah yang saya duga. Latar belakang ibu – ibu yang rata – rata jelas lebih tua dari saya, bermacam – macam profesi dari ibu rumah tangga ataupun pekerja seperti saya membuat alasan saya tidak diterima.
Buat beberapa ibu rumah tangga (tidak semua loch
, sebagai wanita kan ya apa – apa ikut suami, jadi ya namapun nunut suami.
Saya menerangkan bahwa, tidak semua dari kita ikut dengan suami, atau nunut dengan suami, seperti saya misalnya. Bukan karena saya tidak bangga dengan nama suami yang saya sandang, tapi lebih kepada realita kehidupan, hidup diantara aturan – aturan, prosedur, dsb.
Rumah yang masih kredit itupun atas nama saya, jadi jika ada apa – apa dari bank, telkom, pln,kantor saya,kantor pajak dsb, mereka akan mencari saya, suratpun akan dialamatkan atas nama saya. Jika tak seorangpun saling mengenal nama asli. Alamat yang kadang salah ketik bisa susah carinya
Pernyataan saya sebenarnya didukung oleh salah seorang ibu yang bekerja seperti saya. Pernah ada kasus, seseorang mengirimkan barang atas nama saya, entah kenapa alamat yang dia bawa kurang jelas, nanya – nanya ke rumah tetangga dan akhirnya diterimakan oleh tetangga saya yang tahu nama saya karena saya salah satu nasabahnya.
Mungkin itulah resikonya kita hidup di masyarakat, lain daerah lain budaya. Satu sisi Ibu yang prinsipnya ikut suami ada benarnya, suami sebagai kepala rumah tangga, tapi jaman tentu saja kadang berubah, ada kalanya keadaan tiap orang berbeda yang menyebabkan kenapa sebagai wanita harus bekerja dan punya identitas sendiri untuk keperluan administrasi.
