Siap Kalah
Siap Kalah
Sabtu sore, sebelum pergi dari rumah saya masih sempat melihat sekilas acara reality show pemilihan idola menyanyi anak-anak di salah satu stasiun TV. Yang membuat saya sedikit memperhatikan acara tersebut bukan karena diikuti anak anak yang berprofesi sebagai selebritis ataupun anaknya selebritis.
Tapi lebih kepada salah seorang peserta, anak seorang selebritis. Ketika papinya diminta berkomentar, pesannya kepada sang putri, singkat dan tegas “Bersiaplah untuk kalah” dan maminya kurang lebih menimpali bahwa ketika terjun dalam sebuah kompetisi, harus belajar menghargai pemenang kompetisi tersebut.
Kalimat yang sangat berarti dan kelihatannya sangat jarang lagi kita dengar.
Dalam kehidupan, kita berkompetisi untuk kehidupan yang lebih sejahtera, kita berkompetisi dengan diri kita sendiri untuk meningkatkan ibadah kita tiap hari, berkompetisi melawan hawa nafsu agar bisa hidup lebih baik dan lebih bertaqwa. Dalam diskusi, dalam pertandingan, pemilihan pemimpin, dll.
Kita bisa lihat di perlombaan F1 ataupun motoGP, kekalahan bukanlah ajang untuk mencari kambing hitam siapa yang salah, tapi kekalahan lebih menjadi pemicu untuk memperbaiki diri dan mobil ataupun motor yang mereka kendarai.
Banyak kompetisi yang sebenarnya kita hadapi. Tapi pernahkah kita menyiapkan diri kita untuk kalah? Pernahkah kita menyiapkan diri kita untuk menerima dan menghargai pemenang kompetisi tersebut? Pernahkan ibu ibu dan bapak bapak yang sudah berputra menyiapkan bekal untuk siap kalah dan menerima atau menghargai pemenang kepada putra putri anda? Pernahkan kita menyiapkan fairplay untuk hasil terbaik dan bukan segala cara digunakan untuk mencapai tujuan.
Jujur, sayapun kadang tidak siap menerima kekalahan, apalagi jika keberhasilan selalu saya dapat sebelumnya. Walaupun kecewa masih dalam taraf wajar, namun siap kalah terasa sangat berat. Perlu beberapa saat untuk melupakan kekecewaan, kadang berhari hari tergantung kekalahan apa yang saya terima.
Padahal, ikhlas menerima kekalahan, menghargai pemenang adalah salah satu cara untuk memperbaiki diri agar bisa terus maju. Tanpa keikhlasan, saya tidak bisa melihat kekurangan saya, saya bisa merasa saya sempurna, saya tentu saja tidak bisa berpikir dengan jernih apa yang membuat saya kalah dan bagaimana memperbaiki agar kelak di kompetisi berikutnya saya bisa menang.
Sebuah kalimat yang sederhana namun besar filosofinya. Belajar menerima keadaan dan menghargai orang lain.
