Pawang Hujan
Pawang Hujan
Sabtu malam jam 18.00 lewat, hujan deras mengguyur salah satu tempat di Jakarta Selatan. Kami yang seharusnya berangkat jam 18.30 ke acara kondangan salah satu rekan kerja terpaksa menunda keberangkatan. Di area parkir dekat posko security, saya dapat menyaksikan betapa lebatnya hujan bercampur angin tersebut. Angin disertai air mengguyur masuk ke lobby belakang office kami. Mungkin hujan adalah hal yang seakan akan dimusuhi oleh orang yang mengadakan hajatan.
Jam menunjukkan pukul 18.50, tapi hujan sepertinya belum mau berhenti, dan akhirnya dengan dua mobil kami beriringan berangkat ke tempat resepsi. Jakarta terkena hujan, sudah dibayangkan macet dan banjir. Duduk di depan membuat saya leluasa memandang jalanan yang sudah mulai macet, genangan air baik di jalur lambat maupun di tol membuat perjalanan tersendat.
Yang kami khawatirkan adalah jalan di bawah jembatan layang yang lebih rendah dari posisi jalan lainnya. Jika banjir, dipastikan air menggenang lebih dalam. Selain arus lalu lintas lebih tersendat, sedan bisa mati mesin dan membuat macet tambah parah. Tapi ternyata beberapa kilometer dari gedung resepsi jalanan benar2 kering, tanpa ada tanda2 pernah terjadi hujan, termasuk di bawah jembatan layang yang kami khawatirkan.
Alhamdulillah, ucap saya, diikuti celetukan teman saya yang duduk di belakang, dukunnya kuat. Nanti kita tanya bayar berapa buat pawangnya koq cespleng. Tertawa geli mengiringi celotehan yang mungkin guyon mungkin serius. Tentusaja saya tersenyum kecut. Antara kecewa dan geli dengar guyonan soal pawang. Tapi lebih ke prihatin bahwa ternyata masyarakat kita, yang notabene sudah tersentuh internet, lha koq masih percaya dukun. Setiap hajatan yang tidak kehujanan langsung divonis pakai pawang hujan :-) Dan tentu saja konotasi pawang hujan adalah dengan ritualnya menghalau hujan. Menancapkan bawang merah ke sapu lidi, membuang sesuatu ke atap rumah dsb:-)
Sebenarnya kejadian serupa juga menimpa mas Anung waktu pernikahan adik bungsu kami, bulan Januari lalu. Musim hujan baru mulai, hampir tidak ada hari tanpa hujan di Jogja. Seorang tetangga bilang ke mas Anung :
”Le, mbok nggolek a pawang udan to” (Nak, mbok nyari pawang hujan)
“mbotensah pak dhe, mengkih kulo pawangi kiyambak mawon” sahut mas Anung sambil ketawa. (ga usah pak Dhe, nanti biar saya sendiri yang jadi pawang)
Ketika mas Anung cerita dan kita tanya trus caranya mawangi gimana?
Jawabnya adalah : ya ga saya apa2in, masa hujan koq kalah sama pawang, lha luwih kuasa gusti Allah, sahut mas Anung.
"Hai manusia, sembahlah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [Al Baqarah: 21-22]
Allah-lah yang menurunkan hujan, jadi kenapa kita tidak meminta saja kepada Allah jika menginginkan hujan berhenti? Kenapa kita tidak berdo’a saja kepada Allah? Kenapa harus percaya dengan pawang hujan yang memakai ritual ritual yang tidak diajarkan oleh agama kita?
